Monday, September 20, 2010
Rintihan Hati Jerapah yang Ditinggalkan
melukiskanmu saat senja, mencari dan memanggil namamu sampai ke ujung
dunia,, berharap dirimu mandengar dan menjawabkuu,, berharap dirimu
mengenalku dan mengingat janjimu... Selamat jalan, jantan. Aku ingin kau
berusaha mewujudkan impianmu disanaaa !! Gbu,,^_*]
Kutipan inilah yang kutulis untuknya saat ia akan berangkat menuju JOgjakarta, kota pendidikan, kota yang menympan sejuta harapan akan masa depan dan tentu saja kota itu adalah tempatnya untuk mewujudkan impian. Aku bersyukur pada TUHAN yang telah memberikan kesempatan libur bagi kami yang haus akan 'kasih sayang' dan kami pun tak ingin menyia2aknnya, karna liburan kali ini sungguh sangat disayangkan jika kami lewati begitu saja. Karena itu, kami berusaha menghabiskannya dengan melakukan hal2 baru yang 'berguna'. Ia mengajariku banyak hal, berdasar apa yang ia ketahui, ataupun berdasar pengalaman yang baru saja yang kami alami bersama.
Saat ini, saat yang tidak aku tunggu2, sungguh, aku sama sekali tidak mengharapkan datangnya hari ini, hari perpisahanku dengannya. Seandainya aku bisa memutar mesin waktu, aku ingin sekali kesana, kuliah disanaa, walaupun tidak dalam 1 kampus yang sama, setidaknya aku berada dalam kota yang sama dengannya.
Ummmh, yasudaah, mau ngmg apa lagi kalau memang tidak 1 jalan? toh kita masih bisa bertenu dala mimpi, dunia maya, dan semua bentuk alat telekomunikasi yang kami miliki saat ini.
Selama ini aku kuat karena: Semangatnya, Pengorbanannya,dan Pendiriannya yang terus mengingatkanku unuk berlari jauh ke depan, ke hamparan masa depan yang jauh lebih baik daripada masa yang kita lalui bersama. Aku berusaha mengerti maksud ucapannya itu dengan melihat setiap tetes peluh yang keluar dari t7ubuhnya saat berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari kemalasannya. Ia telah mengajarkan banyak hal yang tidak ku duga sama sekali. Ketulusan dan kebaikannya mambuat semua orang akan merindukannya begitu juga dengankuu.
Aku pun sangat merindukaknnya, namun aku tidak mencoba menahannya, walaupun setidaknya hatiku ingin sekali menahannya. Aku berusaha merelakannya pergi, berlari menuju gerbang kesuksesannya.
Dan kini aku hanya bisa menghibur diri sendiri dengan berkata : Ayolah, Chumie, kamu harus relakan dia pergi menyongsong cita2, biarlah dia menggapai impiannya. *toh hanya ke jogja,hanya sekitar 500km, dapat ditempuh hanya dalam waktu 10 jam.* [walau sebenarnya hatiku gundah, tetapi aku harus kuat dan tersenyum padanya sebelum ia pergi. . .]
Ayamkuu, Jantankuu, Jerapah kesayanganku,,
aku akan merindukanmu disini.
Best Regards,,
Jerapah Betinamu yang menunggumu.
Sunday, August 29, 2010
keraguan yang ditimbulkan oleh ucapan kawan lama
Maklum,, mungkin karena aku terlalu malas untuk membuka komputerku, atau mungkin karena aku tidak memiliki apapun untuk diceritakan. .
yaa, itu memang benar, dan aku tidak bisa menyangkalnya, sedikitpun !
Tapi saat ini, aku memiliki sesuatu yang bisa aku ungkapkan dan ceritakan disini, maaf jika terkesan lebay, namun sesungguhnya memang ini yang aku rasakan. Terimakasih.
Jadi, begini looh, jerapah betina,
aku sedang ditinggal pacar keluar kota, dan selama itu, aku dekat dengan beberapa teman lamaku. Kami banyak bercerita dan bertukar pikiran tentang apapun yang ingin kami bicarakan saat itu. Sampai kepada suatu topik yang sesungguhnya tidak ingin kubicarakan, karena aku sedang sensitif akan hal itu, yakni : PACAR.
Ketika mereka bertanya : "siapa pacarmu sekarang ? anak mana ? sudah berapa lama ?, dsb, dst.
Aku benar2 tidak ingin menjawab : "si a, dy kuliah di 'somewhere', uda jadian selama ...bulan, dsb, dst."
Kenapa aku tidak ingin membicarakan hal itu ? kenapa aku terkesan enggan menyebutkan, bahkan seperti menyembunyikan jatidiri sang pacar ?
Mengapa ? Bukankah setiap wanita justru bangga ketika mereka ditanya seperti itu ? Mengapa aku tidak merasa seperti itu ?
Bukan karena aku malu atau tidak mau mengakui kehadiran sang pacar dalam hidupku, namun sejujurnya Aku merasa tidak suka apabila orang lain berusaha mengatahui dan memasuki kehidupan pribadiku, yang seharusnya tidak untuk diumbar2 di hadapan publik, karena aku bukanlah 'publik figur'yang gerakgeriknya ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dan ketika mereka tidak setuju atas pilihanku, mereka merasa bahwa cowo tsb tidak pantas menjadi pacarku, aku merasa sediih.
Mereka bilang bahwa fisik adalah pertimbangan no.1 dalam menerima/menolak cinta seseorang. Kekayaan menduduki peringkat kedua, dan kepintaran menduduki peringkat ketiga.
Hal ini semakin membuatku bertanya2, apa motivasi dari hubungan mereka ? apa yang sesungguhnya mereka rasakan ? apakah tujuan mereka dapat tercapai jika sudah melewati beberapa pertimbangan2 tersebut ? apakah seseorang perempuan harus memutuskan hubungannya dengan pacarnya apabila fisik, kekayaan, dan kepintarannya tidak sebanding ?
Jika YA, aku ingin bertanya lagi, dimana letak kebenaran pepatahh : 'cinta itu tidak memandang muka, namun memandang hati' ? dimana letak 'cinta sejati' yang katanya dapat bertahan lama sampai pesona fisik seseorang tidak lagi dapat dikatakan baik ?
Apakah peradaban manusia sudah melenceng sebegitu jauhnya, sampai2 mencintai pun harus didasarkan pada penampilan luar dan kekayaan ?
huff,
aku menjadi ragu, ragu untuk mencintai dan mencintai seseorang di jaman yang mengikis hati, seperti saat ini.
T_T
Saturday, August 14, 2010
gw ga 'worthed' jadi jerapah betina !
cukup bagi diriku, melukai hatimu. . .
Kasih Tinggalkanlah diriku tuk selamanyaa,
mungkinkau akan bahagia, dengan dia, yang lain.
Lagu ini bener2 gambarin perasaan gw sama cank, saat ini.
gw uda banyak nyakitin n ngelukain hati dy.
gw gabisa terus2an kaya gni,
dy gapantes untuk disakiti atau merasa tersakiti, sekalipun.
Dy terlalu baik buat gw.
gw ga 'worthed' buat dy. . .
yah, semoga aja dy sadar n mo cari yang lebih baik.
Makasiii.
Sunday, August 8, 2010
Perjuangan seorang mahasiswi yang sedang libur 4 bulan
Hati saya selalu ingin melonjak senang ketika mendengar kata itu.
Entah karena saya merasa bebas untuk melakukan apapun yang saya sukai, untuk berhenti dari segala kejenuhan yang timbul akibat aktifitas yang monoton atau sekedar melepas lelah dan tidur sepanjang hari selama 4 bulan. Hahahaa, seperti beruang yang diberikan kesempatan untuk hibernasi, saya pun tidak ingin melewatkan kesempatan ini dengan percuma.
Berbagai aktifitas telah saya coba lakukan demi mengabiskan waktu liburan dengan sebaik2nya :
# berenang
# main badminton
# latihan alat musik
# pacaran
# makan2
# jalan2
# nonton film korea
# sampe belajar ttg enzim.
emh, mo ngapain lagi yaah??
aga bingung juga sii,,
tapi sepertinya aku mo belajar bahasa mandarin juga untuk mengisi waktu libur yang hanya tersisa 1 bulan lagii...
ingin ke kampus, tapi tidak ingin cepat memulai proses di semester 5...
haha,
ini adalah tuliasan gajelas dari mahasiswi yang aga binggung dalam mengahbiskan waktunya, hahahaa
Muralnya Jerapah Jantan
maaf yaa..
oiya,, aku mo cerita ni.
kemarin jerapahku buat mural di depan citoss, walaupun kesiram ujan, tapi aku tetep menghargai setiap perjuangan dia dalam 'berhuajan2an' demi menggambar ulet keket dan jerapah.
sebenernya aku agak tersinggung karena dia selalu mendeskripsikan saya sebagai ulet yang gemuk...
(padahal aku kan ga gemauk2 amat, huhuhuu)
* ga sadar diri gituu.
ya intinya, makasi untuk cankmen yang baik hati...
ilu...
Monday, July 26, 2010
Reaksiku Terhadap Hasil Tes AP
Pada awalnya aku sangat tidak ingin membuka amplop yang bertuliskan "College Board AP" tersebut, karena aku takut, aku takuut, sangat takuut, takut mengecewakan banyak orang. Perasaan takut mengecewakan banyak orang itu lahir dari ketidakmampuanku saat mengerjakan soal ujian yang menurutku terlalu sulit itu.
Ketika amplop itu sudah kubuka dengan penuh kekuatan dari ibuku, aku menemukan bahwa dugaanku selama ini adalah benar adanya. Nilaiku tidak memenuhi standar penerimaan mahasiswa UoL External System. Aku lantas meminta maaf padanya karena hasilku tidak dapat memenuhi harapannya selama ini, dan beliau pun mengerti akan keadaanku.
Aku pun berinisiatif untu keminta maaf kepada pihak-pihak yang kecewa akan hasil tesku ini :
1. Ayah dan Ibuku
Maaf jika uang yang sudah kalian keluarkan demi aku mengikuti tes ini tidak dapat menghasilkan apa-apa. Sungguh aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan menghilangkan uang kalian dengan sia-sia. Maaf.
2. Pak AB - Pak EDI - Miss LILY (sebagai dosen utama)
Terimakasih untuk waktu yang sudah Anda luangkan hanya untuk mengajar seorang mahasiswi yang tidak kompeten ini, terimakasih untuk support dan kesabaran Anda. Aku minta maaf jika hasil tesku benar2 membuat Anda merasa menyesal telah mengajarku selama ini.
3. Pak SLAMET - Pak ADI (sebagai staff UBS INTERNASIONAL)
Terimakasih atas kesempatan yang telah Anda berikan bagi mahasiswa yang ingin mencoba seperti saya, walaupun hasil percobaan ini mengecewakan Anda, saya tetap berdoa semoga angkatan dibawah saya dapat lebih berhasil lagi.
4. Pak BUDHI - Pak DONO
Terimakasih atas kepercayaan Bapak yang diletakkan di pundak saya selama ini. Maaf jika saya tidak bisa menyangga tugas ini dengan sebagaimana mestinya. Saya benar-benar minta maaf.
5. Teman-teman UBS
Maaf ya kalo gw gabisa jadi wakil kalian di program tsb, asli, gw sendiri sebenernya merasa sangat kecewaaa.
6. Pantastic Por ( Altopenia )
Temaand, maafkan dakuuu yang telah gagal memenuhi harapan kaliaaan,, makasi ya buat support dan doanya selama ini.
7. Tatit Kurniasih ( Diriku sendiri )
Label 'Not Recommended' yang seakan menempel erat di dahiku, itu boleh menandakan bahwa aku telah gagal masuk UoL, tapi itu tidak menandakan bahwa aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi demi masa depanku. Aku akan terus berjuang dan berjuang sampai aku menemukan bahwa hidup yang kujalani sekarang bukanlah sekedar harapan kosong, tetapi justru penuh dengan kesuksesan. Karena bagiku, kegagalan bukanlah alasanku untuk berhenti berusaha, justru kegagalan tersebut harus kujadikan pemicun untuk dapat bekerja dan berusaha dengan lebih baik lagi.
Terimakasih untuk Bulik Mun, Yulia Indriyani, Rato Tanggela, Wira Warto Adi, oliviana Gunawan, dan semua teman-teman yang menghibur hatiku saat ini. Kehadiran kalian sugguh sangat berarti untukku..
GOD bless us!!
Friday, June 4, 2010
Cerita Klasik
Ketika mereka sibuk menggambar, aku disini, di Jakarta yang panas ini, sedang sibuk mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian Advance Placement (AP) Test Statistik, Kalkulus, Makroekonomi dan Mikroekonomi. Sekitar 2 minggu sebelum hari pameran kampusku baru mengumumkan bahwa 1 hari setelah pameran akan diadakan Ujian Akhir Semester (UAS) 2009-2010. Seketika itu juga aku mengabari Rato, namun acara tersebut sudah terlanjur disusun sedemikian rupa sehingga harus tetap dilaksanakan pada tanggal resmi kami (23 Mei ), tidak mungkin dibatalkan atau diundur. Saat itu, aku dihadapkan pada dua pilihan sulit, dimana aku harus memilih untuk tetap di Jakarta demi mengikuti ujian atau pergi ke Jogja untuk menghadiri pameran yang telah direncanakan 1 bulan sebelumnya.
Aku pun segera mencari jalan keluar terbaik dengan mengatur ulang jadwal belajar dan berusaha sesegera mungkin menuju Jakarta setelah selesai mengikuti pameran tersebut.
Segala persiapan pameran dapat dipenuhi dengan baik, segala hambatan dan rintangan dapat terlewati dengan baik, sehingga pameran yang ramai dan lancar dapat terlaksana, dan aku melihat senyum-senyum uas dan bahagia itu. Dalam hatiku, Aku merasa sangaat senang, terharu, bahagiaaaa. Mereka sudah menyiapkan yang terbaik, dan aku tidak pernah menyangka bahwa apa yang mereka persiapkan akan menjadi seserius ini. Aku pun semakin merasa sangat tidak berguna ketika aku menyadari bahwa aku tidak dapat memberikan apa-apa untuknya, untuk mereka, yang telah bersusah payah melaksanakan ini semua untukku.
Hari itu berlalu dengan sangaaat menyenangkaan, sampai kami tidak merasakan keletihan, kelaparan, maupun kegerahan karena tidak mandi seharian.
Keesokan harinya, ketika seharusnya aku dan tesa, temanku, pulang ke jakarta dengan pesawat pada pukul 6.10 a.m, tertidur dan baru bangun 1 jam setalah pesawat lepas landas, yakni pada pukul 7.10 a.m. Kami benar-benar merasa sangat menyesal dan sedih. Aku Ingin meminta bantuan Doraemon untuk mengembalikan waktu yang sudah kami habiskan untuk tertidur, namun ketika kami menyadari bahwa Doraemon adalah tokoh fiktif belaka, kami hanya dapat menahan airmata kami dan berlari ke agen tiket pesawat dan kereta api yang harus segera membawa kami kembali menuju Jakarta. Ternyata semua tiket kereta api telah habis, dan kami hanya dapat menarik nafasperlahan, demi menahan airmata kami.
Ketidaksengajaan ini kemudian berbuntut panjang, membuat aku terlambat sampai di Jakarta, menyebabkan aku tidak memiliki kesempatan istirahat, jatuh sakit, dimarahi ibuku, dimarahi dosenku, diperbincangkan oleh teman-temanku, dicemooh oleh saudara-saudaraku, ditertawakan oleh orang-orang yang biasa menemaniku.
Sungguh, aku binggung, tidak tahu apa yang harus aku perbuat, hatiku sangat sedih ketika sebagian orang hanya sekilas mendengar, tidak tahu duduk permasalahannya, sembarang menilai dan hanya dari sisi negatifnya, menunjukkan keegoisan mereka tanpa mau mencoba merasakan dan memahami perasaan serta kondisiku. Mereka hanya bisa menyalahkan aku, menyalahkan posisiku, menyalahkan keadaanku.
Dan aku pun bertanya pada diriku sendiri : Apa salahnya kalau kita memberi apresiasi terhadap segala jerih payah orang lain?
Apakah aku harus diam dan membiarkannya melaksanakan pameran yang sebenarnya diperuntukkan untukku sendirian?
Apakah aq pantas berlaku seperti itu?
Oooh, tolonglaah, jika kalian berada dalam posisiku, apa yang akan kalian lakukan?
Apakah kalian dapat melakukan hal yang lebih baik daripada apa yang aku lakukan?
Apakah kalian bisa bertahan dalam posisiku?
Apa? Tolong jawab akuuu!!
Kalian hanya dapat mengatakan bahwa aku tidak memiliki prioritas, tidak memiliki pendirian, tidak niat, tidak tahu sikon, tidak tahu diri, tidak konsekuen, dan ‘tidak-tidak’ lainnya.
Kalian hanya bisa menyudutkan aku dengan pertanyaan “mengapa kamu melakukan itu, mengapa kamu harus begitu, mengapa harus saat itu?”
Bukankah seharusnya aku yang bertanya kepada kalian, dimana letak kalender akademik kalian? Dimana letak planning kalian? Apakah kalian bisa seenaknya menentukan jadwal ujian tanpa hari dan tanggal yang jelas?
Jangan pernah salahkan mereka yang sudah ‘lebih dahulu’ menyiapkan pameran ini daripada kalian yang menyiapkan jadwal UAS.
Dibalik semua kesedihanku, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, Aku sama sekali tidak merasa menyesal telah memilih untuk pergi ke Jogja, walaupun orang-orang memandangku sebagai perempuan yang tidak memiliki prioritas, tidak memiliki niat, tidak konsekuen, namun kita bisa melihat kenyataannya nanti saat aku membuktikan, siapa yang ‘sebenarnya’ tidak memilikkii prioritas, niat dan tidak konsekuen. Karena menurutku, prioritas tidak dapat dinilai hanya saat ujian, tapi kesetiaan dalam mengerjakan tugas, itulah yang terpenting.
Bukankah Proses lebih penting daripada hasil? Dan bukankah pengalaman lebih utama daripada ujung hidup?
Saat ini aku memang merasa ditekan dan dihimpit, namun aku tidak mau menyerah.
Aku sedih, aku memang menangis, namun aku tidak mau menyerah kalah akan keadaan getir ini. Aku percaya bahwa selama aku jujur dan tidak melakukan sesuatu yang melanggar nilai dan norma yang berlaku, aku bisa melewati ini semua.
Apakah kesalahanku selama ini? Sampai kalian begitu membenciku?
Semua yang terbaik sudah kuberikan pada kalian, tapi apa yang kudapat sebagai balasannya?
Apa yang kalian lakukan sungguh keterlaluan, namun biar bagaimanapun, aku tidak akan membalas apa yang sudah kalian perbuat terhadapku,
Untuk teman-teman yang tertawa diatas penderitaanku, untuk dosen-dosen yang menutup mata hatinya untuk melihat kenyataan, untuk saudara yang hanya bisa mencela dan membanding-bandingkan orang lain, untuk orang-orang yang bahagia telah melihat aku jatuh dan dijatuhkan.
Sudahlaah, hal ini membuatku muak!
Saat ini aku hanya ingin menyatakan rasa syukurku karena jerapah jantanku telah melakukan pengorbanan yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Pengorbanannya yang didasari oleh ketulusan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Mural yang cantik, teman yang baik, solidaritas yang kuat, Jogja yang indah, semua itu sudah menghiburku ketika aku dihimpit oleh orang-orang jahat yang seakan-akan mau membuatku merasa menyesal telah datang ke jogja, namun sayang sekali.
Maaf, anda gagal, karena aku sama sekali tidak merasa menyesal, kuulangi, aku SAMA SEKALI TIDAK MERASA MENYESAL.
Aku bangga terdahap jerapah jantanku, aku bangga terhadap kepemimpinannya, solidaritasnya, kebaikannya, kesetiaannya, ketulusannya.
Hanya dia yang dapat menyetuh hatiku dan menghiburku, saat ia mengirimiku sebuah pesan singkat yang intinya memberikan gambar dinding itu untukku.
Terimakasih jantanku, aku sangat terharu sampai-sampai aku sangat ingin sekali menagis menangis bahagia karena cintamu.
Aku binggung harus berkata apa lagi untuk membalas semua kebaikanmu dan memberikan sesuatu yang indah sebagai ucapan terimakasihku, sayangnya aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu, aku minta maaf, benar-benar minta maaf.
Maaf.
Aku sayang Padamu!!